Dulu, ketika baru mulai menulis ato baru mulai jadi jurnalis, rasanya begitu banyak ide-ide tulisan menari-nari di benak ini. Tiap saat ada saja ide baru muncul. Dan senangnya lagi, begitu lancar dan begitu mudah rasanya mewujudkan ide-ide itu ke dalam satu tulisan. Bukannya nyombong, pernah dihitung-hitung kalo dalam sebulan saya bisa menghasilkan tak kurang dari 100 tulisan entah dalam bentuk opini, artikel, ato wawancara, yang waktu itu dimuat di Wiyata Mandala dan Bali Post Minggu. Pun ketika saya ditugaskan di DenPost sebagai wartawan hiburan, begitu mudahnya membuat satu tulisan, mungkin sama mudahnya dengan memetik buah ketika lagi musim panen.
Lalu bagaimana dengan sekarang? Meskipun saya masih menjadi jurnalis, malah punya media sendiri, saya sungguh kecewa. Ternyata produktivitas, kecekatan dalam menangkap ide dan menulisnya seperti dahulu, menurun jauh sekali. Tentu ini tak ada kaitannya dengan usia, karena rasanya tulis-menulis memang tak terpengaruh oleh umur. Sekalipun masih menghasilkan beberapa tulisan, rasanya seringkali tidak puas karena tulisan-tulisan sekarang tidak se-bernas dulu lagi. Hiks…. sedih rasanya…..
Bukan mencari pembenaran kalo kemudian saya mencoba menelusuri mengapa kebrilianan saya dalam menulis (bukannya nyombong, he he he) menjadi kian memudar. Bagaimanapun satu karya tulis merupakan buah pikiran, mengandalkan konsentrasi dan ketenangan pikiran itu sendiri. Dulu ketika masih bekerja di media lain, saya hanyalah “anak buah” yang bertugas mencari berita dan menghasilkan tulisan. Itu saja. Pastilah fokus saya hanya ke sana saja. Tak heran kalo ibarat pisau tiap hari digunakan dan terus diasah, makin tajam pula dia. Tapi sekarang setelah mencoba mandiri dan merintis media sendiri, ada begitu banyak hal yang harus saya pikirkan. Bagaimana membuat media tetap terbit, mikirin iklan, mikirin distribusi, mikirin honor penulis dan kru, sudah menyita hampir seluruh pikiran. Tak salah kalau keinginan menulis kerap “terganggu” oleh hal-hal tersebut.
Walau begitu tek rela rasanya kalau kemampuan untuk produktif dalam menulis seperti dulu makin terpuruk. Sekalipun sibuk dengan pikiran lain, menulis harus tetap jalan dan tetap harus produktif. Anggaplah blog ini sebagai wahana bagi saya untuk mengais kembali, membangkitkan kembali semangat yang pernah hilang… mengasah kembali segenap kemampuan yang masih ada. Biarlah mulai dari Nol lagi. Karena saya berharap satu saat saya bisa kembali menjadi “Adnyana yang dulu” yang bisa bangga pada kemampuan diri sendiri (walau mungkin kedengarannya sedikit narsis, he he he…), Tunggu satu saat, I’ll be back….
iya mas, ditunggu lho tulisan-tulisannya
salam kenal…
Oleh: isnuyasha on Agustus 23, 2008
at 2:56 am
Iya, salam kenal kembali. Lagi mengumpulkan “kekuatan” dulu sebelum start lagi, he he he….
Oleh: adnyana71 on Agustus 24, 2008
at 11:42 am