Tulisan yang saya lampirkan di bagian bawah ini, saya dapat dari satu grup. Mungkin kesannya sederhana dan tidak ada istimewanya. Tapi jujur saja tiap kali baca tulisan seperti ini, entah itu tentang ibu, ayah, atau orangtua, saya merasa menjadi begitu peka, gampang trenyuh. Salah satu alasan karena tiap baca tulisan seperti ini, saya jadi teringat dengan ibu saya yang sudah meninggal dunia 3 tahun lalu.
Hari-hari terakhir sebelum berpulang, saya masih bisa merasakan kedekatan dengan ibu yang saat itu sesungguhnya menahan sakit yang tak terobati. Siang harinya saat pulang istirahat siang, saya malah sempat membawakan ibu oleh-oleh sebungkus nasi Padang dengan daging rendang. Ibu memakannya separuh, dan memberikannya separuh lagi kepada keponakan saya, cucu yang termasuk dekat dengannya. Malam harinya sepulang dari kantor, saya masih sempat menelepon ke rumah menanyakan Ibu mau dibawakan apa. Kebetulan yang mengangkat telepon adik saya, karena ibu sedang mandi. Saya mampir ke pasar Badung, membeli tahu untuk ibu. Begitu tiba di rumah, saya malah mendapati adik saya panik, karena Ibu mengerang setengah sadar di kamar mandi, seperti menahan sakit luar biasa. Saya bersama adik susah payah mengangkat ibu dari kamar mandi dan menaruhnya di kursi roda. Saat itu ibu hanya diam, tak bergerak… saya pikir waktu itu ibu pingsan. Saya langsung menelepon ambulans, dan adik menghubungi saudara yang lain. Sekejap rumah menjadi ramai, seluruh saudara datang. Perawat yang memeriksa ibu tidak berkata apa, hanya meminta agar Ibu langsung dibawa ke rumah Sakit. Di rumah Sakit Dharma Usadha, ambulans baru sampai di halaman. Dokter yang datang memeriksa, hanya berkata, “Pak, relakan saja….” Waktu itu saya benar-benar merasa shock dan tidak bisa berkata apa. Tapi saya tidak menangis. Saya mencoba untuk tegar dan menerima kenyataan. Saya langsung menghubungi beberapa sanak keluarga yang lain. Saya juga teringat, tiga hari ke depan, saya bersama teman-teman di vihara berencana berangkat ke Pupuan, untuk suting sinetron di Vihara Dharma Giri, di mana saya dipercaya sebagai sutradaranya. Maka saya langsung menghubungi pemeran utamanya, ***, sambil mengatakan saya tidak bisa ikut berangkat. Kalau mau suting jalan, silakan lanjut dengan asisten sutradara saja dulu. Ketika ditanya kenapa? Saat itulah berat sekali mengatakannya, dan sambil meledak tangis di telepon saya hanya bisa bilang, “Mama saya meninggal….”
Sejak kepergian Ibu untuk selamanya, saya jadi banyak introspeksi diri. Begitu banyak hal, begitu banyak “janji” (walaupun saya hanya ucapkan dalam hati) untuk Ibu yang belum bisa saya penuhi. Saya merasa belum bisa membahagiakan Ibu walau sedikit saja, seumur hidupnya. Saya belum bisa memberikan Ibu tempat tinggal yang layak, karena sekian tahun kami tinggal berpindah-pindah dari rumah kontrakan satu ke rumah kontrakan yang lain. Saya juga menyesal luar biasa karena tidak mampu membiayai Ibu untuk pergi ke Cina, bertemu dengan saudara-saudara juga kakek dan nenek saya (sampai kakek dan nenek juga meninggal) — setelah hampir 40 tahun ibu berpisah dengan keluarga ketika terjadi eksodus besar-besaran warga keturunan Tionghoa dari Bali/juga daerah lain di Indonesia kembali ke Cina, dan hanya ibu sendiri yang masih tinggal di Bali, sementara saudaranya yang lain ikut “pulang” semua. Saya hanya bisa membiayai sambungan telepon internasional tiap hari raya Imlek, agar ibu bisa berbincang dengan saudaranya yang masih ada jauh di seberang sana. Yang lainnya… saya belum bisa membahagiakan Ibu, karena saya pernah punya harapan, saat saya menikah saya akan disaksikan langsung ayah dan ibu.
Memang benar kata orang bijak, kita seringkali merasa sesuatu itu amat sangat berharga, justru setelah kita kehilangan sesuatu itu. Karenanya tiap kali mendengar lagu tentang Ibu, membaca kisah atau tulisan tentang Ibu, saya menjadi begit gampang tersentuh. Karenanya begitu mendapat kiriman tulisan dari cetivasi group, saya ingin berbagi kepada siapa saja yang mengunjungi blog saya ini. Berikut tulisan itu….. :
——————————
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga yang amat sederhana. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, “Makanlah nak, aku tidak lapar.” Dan setelah aku dewasa aku baru tersadar bahwa saat itu ibu telah berbohong.
Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan segar yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.
Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan,” tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali berbohong.
Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, demi membiayai uang sekolah itu, ibu rela mengerjakan sulaman barang-barang kerajinan yang didapatnya dari tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaannya itu. Saat itu aku trenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam menunjukan pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya untuk istirahat dan tidur, ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu, sementara ia beralasan belum mengantuk.
Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang mensehati ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan bahwa ia tak butuh cinta, dan aku tahu saat itu ibu berbohong.
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang mulai renta sudah waktunya beristirahat. Tetapi ibu tidak mau, ia rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. “Gunakan saja uang itu untuk keperluan kalian, saat ini ibu tak membutuhkan uang kalian.” Entah sudah berapa kali ibu berbohong.
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena sebuah penyakit, kini ia harus dirawat di rumah sakit. Aku yang berada jauh di seberang lautan harus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan di bagian perutnya.
Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang terpancar di wajahnya terkesan agak kaku, karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku, sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku pedih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata, “Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan.” Dan itu kebohongan ibu yang kesekian kalinya.
Setelah mengucapkan kebohongannya- kebohongannya, ibuku tercinta menutup mata untuk yang terakhir kalinya. Demikianlah, ibu yang telah melahirkan kita, merawat kita sejak dilahirkan, akan selalu terpaksa untuk berbohong demi membahagiakan kita. Dan sudahkan kita mengingat mereka, mengingat para ibu kita yang kebetulan saat ini masih hidup dan butuh pertolongan kita. Sudah berapa lamakah kita tak mengunjungi mereka, tak berbincang-bincang dengan mereka cuma karena aktivitas kita yang padat.
Kita harus akui bahwa kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita?
Risau, apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau, apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan lagi. Saat kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “menyesal” di kemudian hari. (rn)
Halo bli Ad, menyentuh sekali kisah tentang ibunya ini…
Oya sekalian mampir sekalian mau minta tolong membantu info tentang ada lomba blog remaja yang diselnggarakan oleh kisara, didukung oleh bali youth foundation, bali blogger community, balebengong, 28sign.com,blubrainer dan balfm. Thks. Info bisa diclick di http://remajabali.wordpress.com/lomba-blog-remaja-2008/
Oleh: remajabali on Agustus 12, 2008
at 9:53 am
Terima kasih…. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi yang baca, akan peran dan arti seorang ibu, juga ayah tentunya….
Info lomba blog remaja sudah saya copy, saya coba sounding ke teman-teman juga anak-anak Smansa Journalist Club.
Oleh: adnyana71 on Agustus 13, 2008
at 4:04 am