Mengawali sebuah blog dengan topik seperti ini mungkin terlalu remeh, terlalu ringan, terlalu mellow, atau apa lah istilahnya. Tapi apa daya, saat ini saya ingin menulis, dan inilah yang ingin saya tulis.
Hei, kapan kawin? Pertanyaan ini begitu sering saya terima, terlebih lagi dalam beberapa bulan terakhir ini. Sebetulnya ngga aneh sih, bahkan menurut saya sangat wajar. Tiap kali bertemu teman atau kenalan, pasti muncul pertanyaan itu, “kapan kawin nih? undangannya sudah ditunggu lho!” Pun saat beberapa teman datang ke rumah mengantar kartu undangan pernikahan, penutupnya selalu ada pesan, “kapan nih nyusul?”
Saya hanya bisa tersenyum (sengaja dibuat tersenyum saja walau sebetulnya sudah bosan juga meladeni pertanyaan serupa). Memang kalau diingat-ingat, rasanya sudah hampir semua teman-teman baik yang seangkatan di SMA, juga di kampus, sudah pada menikah bahkan anak-anak mereka juga sudah besar. Bahkan adik kelas di kampus atau yunior di kantor tempat dulu bekerja, satu per satu sudah melepas masa lajang. Sangat wajar kalau akhirnya pertanyaan “hei, kapan kawin” makin santer ditujukan kepada saya. Maklum saja, tahun ini tepatnya Oktober nanti usia saya sudah mencapai 37 tahun.
Jujur, saya sendiri sebetulnya merasa “ngeri” dan sangat gelisah juga. Bahkan dulu ketika akan melepas kepala dua dan mulai memasuki umur 30, perasaan itu juga sudah sangat kuat. Umur 37 belum kawin, belum punya investasi, belum punya pekerjaan yang sangat memadai, walah…. Entah apa semua orang yang begitu memasuki kategori “dewasa” (tua?) mengalami apa yang disebut krisis rasa percaya diri. Hal itu pula yang terjadi kalau hati kecil ini berkata, “hei, Adnyana… kamu sudah 37 tahun, apa yang sudah kamu capai dan kamu hasilkan?”
Sejujurnya, siapa sih yang tidak ingin kawin, punya pasangan, punya keturunan, punya keluarga? Persoalannya barangkali bukan mau tidak mau, tetapi dengan siapa? Banyak teman-teman yang mengatakan mungkin saya terlalu pemilih. Padahal sebetulnya tidak juga, walau bagi saya sangat jelas dan sudah menjadi prinsip, yang namanya pasangan hidup tidak bisa asal ambil atau asal comot seperti ketika kita memilih baju atau sepatu di toko. Ada teman yang bilang, mungkin saya trauma ketika dua kali mengalami orang yang saya sukai kawin dengan pria pilihan yang lain, dan “tololnya” saya menghadiri dan menyaksikan langsung perkawinan mereka bahkan juga mengucapkan “selamat”. Hmmm… trauma…. mungkin tidak juga, karena toh masih ada banyak wanita yang lain. Tapi seperti lagu Teresa Teng (alm.) yang saya gemari, sei lai ai wo? se ai wo… sei lai ai wo… pu ce sei lai ai wo (kata teman yang tahu bahasa Mandarin, artinya kurang lebih: siapa yang akan mencintai saya? jangan-jangan tidak ada yang mencintai saya, …)
Kalaulah memang harus melewati hidup ini sendiri, sepintas bukanlah hal yang berat sekali. Namun yang tidak bisa dimungkiri, perasaan untuk mencintai dan dicintai sering muncul… bahwa secara psikologis kehadiran seorang pasangan sangat kita butuhkan. Maka sekali lagi ketika teman-teman bertanya, “kapan kawin?” Sekarang pun saya akan kawin kalau memang sudah dapat pasangan. Tapi siapa dia?
Ah… kalau dipikir-pikir terus pusing juga. Akhirnya saya percaya kalau memang sudah karmanya, saya pasti akan bertemu dengan dia yang akan menjadi pasangan saya.
nggak usah dipikir bli ad…dijalanin saja.pasti dapet…
Oleh: okanegara on Juli 30, 2008
at 2:58 pm