Oleh: adnyana71 | Oktober 21, 2008

It Just A Moment….

Ulang tahun, birthday, apalah sebutannya… Selalu datang setahun sekali. Bagi sebagian orang, ulang tahun adalah momen istimewa yang “harus” diperingati, dengan gaya dan cara tersendiri. Entah kumpul atau makan bareng keluarga, teman, hingga bikin pesta. Sementara bagi sebagian lain, ulang tahun tidak musti “dirayakan”. Ada cara lain untuk memaknai ulang tahun, misalnya pergi ke satu tempat menyendiri, melakukan introspeksi, perenungan, atau lainnya.
Well… ulang tahun, birthday atau apalah namanya, “it just a moment”. Ia akan selalu ada dan selalu datang tanpa pernah kita harap atau kita minta, selama kita masih bernapas di bumi ini.
Ketika ulang tahun itu datang lagi, saya merasa diingatkan, Adnyana… kamu sekarang sudah 37 tahun. (Oww… merasa sudah begitu tua, hikz…). Apa yang sudah kamu kerjakan? Apa yang sudah kamu perbuat? Well… 37 tahun memang sudah banyak yang saya perbuat, walau mungkin hampir semuanya “belum ada apa-apa” dan “tak bermakna banyak” bagi saya.
That’s mean, saya merasa harus melakukan sesuatu bahkan banyak hal lagi yang saya bisa, yang lebih bermakna, bukan hanya bagi saya sendiri tentunya, tetapi juga bagi orang lain. Jika waktu dan perjalanan “karma” memang memungkinkan, i will do it.
Ulang tahun, birthday….
Ah, “it just a moment”, nothing special for me (again) on birthday this year… No candle to blow up, no party, and no dearest one beside me… I would like to say, “Happy Birthday to Me” :)

Oleh: adnyana71 | Oktober 10, 2008

Poligami susah juga ya?

 

Poligami atau banyak istri, enak apa susah ya? Mungkin bagi mereka yang sudah melakoninya ada kesan tersendiri, bisa menikmati sudah pasti, karena kalau tidak buat apa mereka memilih jalan ini? Tapi bagi saya sendiri “poligami” ternyata susah juga. Susah membagi perhatian secara adil dan merata, kadang lagi asyik dan menikmati banget sama yang satu, sudah lupa sama yang lain.

Ya, dalam sebulan terakhir ini saya sedang menjalani “poligami”. Awalnya saya hanya bikin satu blog saja untuk pribadi, ya adnyana71 ini. Tapi kemudian saya berpikir untuk bikin blog juga untuk majalah yang saya garap, Bali Music Magazine. Sempat pakai multiply, kemudian bikin juga di wordpress dengan nama www.balimusicmagz.wordpress.com. Lalu saya punya mimpi besar, menggelar acara penganugerahan penghargaan untuk musik indie Bali dan lagu pop Bali, dengan nama acara Malam Apresiasi Musik Bali. Jadilah bikin satu blog lagi, www.mybalimusic.wordpress.com.

Walhasil, untuk “poligami” ini saya tidak bisa membagi perhatian secara merata dan adil. Belakangan saya lebih aktif memantau dan meng-update blog untuk Apresiasi Musik Bali. Blog yang lain sempat telantar. Duh…. maunya semua bisa mendapat perhatian sama. Tapi ternyata sulit juga…

Ah, poligami kayaknya susah juga ya? Tapi sudah telanjur, saya harus konsisten dan semua blog yang saya buat harus tetap hidup….

Oleh: adnyana71 | Agustus 17, 2008

Mulai Dari Nol

Dulu, ketika baru mulai menulis ato baru mulai jadi jurnalis, rasanya begitu banyak ide-ide tulisan menari-nari di benak ini. Tiap saat ada saja ide baru muncul. Dan senangnya lagi, begitu lancar dan begitu mudah rasanya mewujudkan ide-ide itu ke dalam satu tulisan. Bukannya nyombong, pernah dihitung-hitung kalo dalam sebulan saya bisa menghasilkan tak kurang dari 100 tulisan entah dalam bentuk opini, artikel, ato wawancara, yang waktu itu dimuat di Wiyata Mandala dan Bali Post Minggu. Pun ketika saya ditugaskan di DenPost sebagai wartawan hiburan, begitu mudahnya membuat satu tulisan, mungkin sama mudahnya dengan memetik buah ketika lagi musim panen.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Meskipun saya masih menjadi jurnalis, malah punya media sendiri, saya sungguh kecewa. Ternyata produktivitas, kecekatan dalam menangkap ide dan menulisnya seperti dahulu, menurun jauh sekali. Tentu ini tak ada kaitannya dengan usia, karena rasanya tulis-menulis memang tak terpengaruh oleh umur. Sekalipun masih menghasilkan beberapa tulisan, rasanya seringkali tidak puas karena tulisan-tulisan sekarang tidak se-bernas dulu lagi. Hiks…. sedih rasanya…..

Bukan mencari pembenaran kalo kemudian saya mencoba menelusuri mengapa kebrilianan saya dalam menulis (bukannya nyombong, he he he) menjadi kian memudar. Bagaimanapun satu karya tulis merupakan buah pikiran, mengandalkan konsentrasi dan ketenangan pikiran itu sendiri. Dulu ketika masih bekerja di media lain, saya hanyalah “anak buah” yang bertugas mencari berita dan menghasilkan tulisan. Itu saja. Pastilah fokus saya hanya ke sana saja. Tak heran kalo ibarat pisau tiap hari digunakan dan terus diasah, makin tajam pula dia. Tapi sekarang setelah mencoba mandiri dan merintis media sendiri, ada begitu banyak hal yang harus saya pikirkan. Bagaimana membuat media tetap terbit, mikirin iklan, mikirin distribusi, mikirin honor penulis dan kru, sudah menyita hampir seluruh pikiran. Tak salah kalau keinginan menulis kerap “terganggu” oleh hal-hal tersebut.

Walau begitu tek rela rasanya kalau kemampuan untuk produktif dalam menulis seperti dulu makin terpuruk. Sekalipun sibuk dengan pikiran lain, menulis harus tetap jalan dan tetap harus produktif. Anggaplah blog ini sebagai wahana bagi saya untuk mengais kembali, membangkitkan kembali semangat yang pernah hilang… mengasah kembali segenap kemampuan yang masih ada. Biarlah mulai dari Nol lagi. Karena saya berharap satu saat saya bisa kembali menjadi “Adnyana yang dulu” yang bisa bangga pada kemampuan diri sendiri (walau mungkin kedengarannya sedikit narsis, he he he…), Tunggu satu saat, I’ll be back….

Oleh: adnyana71 | Agustus 3, 2008

Tentang Ibu

Tulisan yang saya lampirkan di bagian bawah ini, saya dapat dari satu grup. Mungkin kesannya sederhana dan tidak ada istimewanya. Tapi jujur saja tiap kali baca tulisan seperti ini, entah itu tentang ibu, ayah, atau orangtua, saya  merasa menjadi begitu peka, gampang trenyuh. Salah satu alasan karena tiap baca tulisan seperti ini, saya jadi teringat dengan ibu saya yang sudah meninggal dunia 3 tahun lalu.

Hari-hari terakhir sebelum berpulang, saya masih bisa merasakan kedekatan dengan ibu yang saat itu sesungguhnya menahan sakit yang tak terobati. Siang harinya saat pulang istirahat siang, saya malah sempat membawakan ibu oleh-oleh sebungkus nasi Padang dengan daging rendang. Ibu memakannya separuh, dan memberikannya separuh lagi kepada keponakan saya, cucu yang termasuk dekat dengannya. Malam harinya sepulang dari kantor, saya masih sempat menelepon ke rumah menanyakan Ibu mau dibawakan apa. Kebetulan yang mengangkat telepon adik saya, karena ibu sedang mandi. Saya mampir ke pasar Badung, membeli tahu untuk ibu. Begitu tiba di rumah, saya malah mendapati adik saya panik, karena Ibu mengerang setengah sadar di kamar mandi, seperti menahan sakit luar biasa. Saya bersama adik susah payah mengangkat ibu dari kamar mandi dan menaruhnya di kursi roda. Saat itu ibu hanya diam, tak bergerak… saya pikir waktu itu ibu pingsan. Saya langsung menelepon ambulans, dan adik menghubungi saudara yang lain. Sekejap rumah menjadi ramai, seluruh saudara datang. Perawat yang  memeriksa ibu tidak berkata apa, hanya meminta agar Ibu langsung dibawa ke rumah Sakit. Di rumah Sakit Dharma Usadha, ambulans baru sampai di halaman. Dokter yang datang memeriksa, hanya berkata, “Pak, relakan saja….” Waktu itu saya benar-benar merasa shock dan tidak bisa berkata apa. Tapi saya tidak menangis. Saya mencoba untuk tegar dan menerima kenyataan. Saya langsung menghubungi beberapa sanak keluarga yang lain. Saya juga teringat, tiga hari ke depan, saya bersama teman-teman di vihara berencana berangkat ke Pupuan, untuk suting sinetron di Vihara Dharma Giri, di mana saya dipercaya sebagai sutradaranya. Maka saya langsung menghubungi pemeran utamanya, ***, sambil mengatakan saya tidak bisa ikut berangkat. Kalau mau suting jalan, silakan lanjut dengan asisten sutradara saja dulu. Ketika ditanya kenapa? Saat itulah berat sekali mengatakannya, dan sambil meledak tangis di telepon saya hanya bisa bilang, “Mama saya meninggal….”

Sejak kepergian Ibu untuk selamanya, saya jadi banyak introspeksi diri. Begitu banyak hal, begitu banyak “janji” (walaupun saya hanya ucapkan dalam hati) untuk Ibu yang belum bisa saya penuhi. Saya merasa belum bisa membahagiakan Ibu walau sedikit saja, seumur hidupnya. Saya belum bisa memberikan Ibu tempat tinggal yang layak, karena sekian tahun kami tinggal berpindah-pindah dari rumah kontrakan satu ke rumah kontrakan yang lain. Saya juga menyesal luar biasa karena tidak mampu membiayai Ibu untuk pergi ke Cina, bertemu dengan saudara-saudara juga kakek dan nenek saya (sampai kakek dan nenek juga meninggal) — setelah hampir 40 tahun ibu berpisah dengan keluarga ketika terjadi eksodus besar-besaran warga keturunan Tionghoa dari Bali/juga daerah lain di Indonesia kembali ke Cina, dan hanya ibu sendiri yang masih tinggal di Bali, sementara saudaranya yang lain  ikut “pulang” semua. Saya hanya bisa membiayai sambungan telepon internasional tiap hari raya Imlek, agar ibu bisa berbincang dengan saudaranya yang masih ada jauh di seberang sana. Yang lainnya… saya belum bisa membahagiakan Ibu, karena saya pernah punya harapan, saat saya menikah saya akan disaksikan langsung ayah dan ibu.

Memang benar kata orang bijak, kita seringkali merasa sesuatu itu amat sangat berharga, justru setelah kita kehilangan sesuatu itu. Karenanya tiap kali mendengar lagu tentang Ibu, membaca kisah atau tulisan tentang Ibu, saya menjadi begit gampang tersentuh. Karenanya begitu mendapat kiriman tulisan dari cetivasi group, saya ingin berbagi kepada siapa saja yang mengunjungi blog saya ini. Berikut tulisan itu….. :

——————————

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga yang amat sederhana. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, “Makanlah nak, aku tidak lapar.” Dan setelah aku dewasa aku baru tersadar bahwa saat itu ibu telah berbohong.

Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan segar yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.

Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan,” tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali berbohong.

Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, demi membiayai uang sekolah itu, ibu rela mengerjakan sulaman barang-barang kerajinan yang didapatnya dari tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaannya itu. Saat itu aku trenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam menunjukan pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya untuk istirahat dan tidur, ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu, sementara ia beralasan belum mengantuk.

Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang mensehati ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan bahwa ia tak butuh cinta, dan aku tahu saat itu ibu berbohong.

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang mulai renta sudah waktunya beristirahat. Tetapi ibu tidak mau, ia rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. “Gunakan saja uang itu untuk keperluan kalian, saat ini ibu tak membutuhkan uang kalian.” Entah sudah berapa kali ibu berbohong.

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena sebuah penyakit, kini ia harus dirawat di rumah sakit. Aku yang berada jauh di seberang lautan harus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan di bagian perutnya.

Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang terpancar di wajahnya terkesan agak kaku, karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku, sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku pedih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata, “Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan.” Dan itu kebohongan ibu yang kesekian kalinya.

Setelah mengucapkan kebohongannya- kebohongannya, ibuku tercinta menutup mata untuk yang terakhir kalinya. Demikianlah, ibu yang telah melahirkan kita, merawat kita sejak dilahirkan, akan selalu terpaksa untuk berbohong demi membahagiakan kita. Dan sudahkan kita mengingat mereka, mengingat para ibu kita yang kebetulan saat ini masih hidup dan butuh pertolongan kita. Sudah berapa lamakah kita tak mengunjungi mereka, tak berbincang-bincang dengan mereka cuma karena aktivitas kita yang padat.

Kita harus akui bahwa kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita?

Risau, apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau, apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan lagi. Saat kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “menyesal” di kemudian hari. (rn)

Oleh: adnyana71 | Juli 15, 2008

Hei, Kapan Kawin?

Mengawali sebuah blog dengan topik seperti ini mungkin terlalu remeh, terlalu ringan, terlalu mellow, atau apa lah istilahnya. Tapi apa daya, saat ini saya ingin menulis, dan inilah yang ingin saya tulis.

Hei, kapan kawin? Pertanyaan ini begitu sering saya terima, terlebih lagi dalam beberapa bulan terakhir ini. Sebetulnya ngga aneh sih, bahkan menurut saya sangat wajar. Tiap kali bertemu teman atau kenalan, pasti muncul pertanyaan itu, “kapan kawin nih? undangannya sudah ditunggu lho!” Pun saat beberapa teman datang ke rumah mengantar kartu undangan pernikahan, penutupnya selalu ada pesan, “kapan nih nyusul?”

Saya hanya bisa tersenyum (sengaja dibuat tersenyum saja walau sebetulnya sudah bosan juga meladeni pertanyaan serupa). Memang kalau diingat-ingat, rasanya sudah hampir semua teman-teman baik yang seangkatan di SMA, juga di kampus, sudah pada menikah bahkan anak-anak mereka juga sudah besar. Bahkan adik kelas di kampus atau yunior di kantor tempat dulu bekerja, satu per satu sudah melepas masa lajang.  Sangat wajar  kalau akhirnya pertanyaan “hei, kapan kawin” makin santer ditujukan kepada saya. Maklum saja, tahun ini tepatnya Oktober nanti usia saya sudah mencapai 37 tahun.

Jujur, saya sendiri sebetulnya merasa “ngeri” dan sangat gelisah juga. Bahkan dulu ketika akan melepas kepala dua dan mulai memasuki umur 30, perasaan itu juga sudah sangat kuat. Umur 37 belum kawin, belum punya investasi, belum  punya pekerjaan yang sangat memadai, walah…. Entah apa semua orang yang begitu memasuki kategori “dewasa” (tua?) mengalami apa yang disebut krisis rasa percaya diri. Hal itu pula yang terjadi kalau hati kecil ini berkata, “hei, Adnyana… kamu sudah 37 tahun, apa yang sudah kamu capai dan kamu hasilkan?”

Sejujurnya, siapa sih yang tidak ingin kawin, punya pasangan, punya keturunan, punya keluarga? Persoalannya barangkali bukan mau tidak mau, tetapi dengan siapa? Banyak teman-teman yang mengatakan mungkin saya terlalu pemilih. Padahal sebetulnya tidak juga, walau bagi saya sangat jelas dan sudah menjadi prinsip, yang namanya pasangan hidup tidak bisa asal ambil atau asal comot seperti ketika kita memilih baju atau sepatu di toko. Ada teman yang bilang, mungkin saya trauma ketika dua kali mengalami orang yang saya sukai kawin dengan pria pilihan yang lain, dan “tololnya” saya menghadiri dan menyaksikan langsung perkawinan mereka bahkan juga mengucapkan “selamat”. Hmmm… trauma…. mungkin tidak juga, karena toh masih ada banyak wanita yang lain. Tapi seperti lagu Teresa Teng (alm.) yang saya gemari, sei lai ai wo? se ai wo… sei lai ai wo… pu ce sei lai ai wo (kata teman yang tahu bahasa Mandarin, artinya kurang lebih: siapa yang akan mencintai saya? jangan-jangan tidak ada yang mencintai saya, …)

Kalaulah memang harus melewati hidup ini sendiri, sepintas bukanlah hal yang berat sekali. Namun yang tidak bisa dimungkiri, perasaan untuk mencintai dan dicintai sering muncul… bahwa secara psikologis kehadiran seorang pasangan sangat kita butuhkan. Maka sekali lagi ketika teman-teman bertanya, “kapan kawin?” Sekarang pun saya akan kawin kalau memang sudah dapat pasangan. Tapi siapa dia?

Ah… kalau dipikir-pikir terus pusing juga. Akhirnya saya percaya kalau memang sudah karmanya, saya pasti akan bertemu dengan dia yang akan menjadi pasangan saya.

Kategori